Slider[Style1]
Style2
Style3[OneLeft]
Style3[OneRight]
Style4
Style5
Kloning
Posted by: Unknown Posted date: 00.22 / comment : 0 karya ilmiah
Point 1
Kloning
: proses menghasilkan individu – individu dari jenis yang sama ( populasi )
yang identik secara genetik.
Point 2
Tujuan
- Memproduksi organ tubuh untuk transplantasi
- Menghindari penyakit
- Menciptakan manusia unggul ( genius )
- Seleksi jenis kelamin ( xx xy )
- Memecahkan masalah reproduksi
- Immortalitas ( mengklon dirinya sendiri )
- Bisnis ( menyediakan pengkloningan )
Point 3
Akan tetapi, terkait
dengan penerapan kloning pada manusia, muncullah pro dan kontra di
tengah-tengah masyarakat. Sebagian dari mereka setuju dengan segala keuntungan
dari kloning, sedangkan sebagian lagi menentangnya dengan membawa segala
kerugian yang bisa muncul dari tindakan kloning ini.
Pro
Kloning
• Kloning memiliki potensi membawa perubahan
yang diinginkan dalam susunan genetik individu.
• Sifat genetik baik dapat terus dipromosikan
sedangkan sifat negatif bisa dihilangkan.
• Kloning
bisa diterapkan pada tanaman untuk menghapus atau mengubah gen cacat
sehingga membuat tanaman lebih tahan terhadap penyakit.
• Kloning dapat diaplikasikan untuk membuat
organ manusia sehingga melepaskan ketergantungan pada donor organ.
• Teknik kloning dapat memungkinkan dokter
mengidentifikasi penyebab keguguran spontan
• Memberikan pehamaman pertumbuhan cepat sel
kanker
• Penggunaan sel stem untuk meregenerasi sel
syaraf
• Memperlambat penuaan
Keuntungan potensial
dari kloning.
1.
Penggantian organ
Jika dapat dikloning,
organ tubuh hasil kloning akan berfungsi sebagai sistem cadangan.
Kloning bagian tubuh
berperan sebagai penyelamat. Ketika organ tubuh seperti ginjal atau jantung
gagal berfungsi, dimungkinkan untuk menggantinya dengan organ tubuh hasil
kloning.
2.
Menggantikan reproduksi alam
Kloning pada manusia
dapat menjadi solusi untuk infertilitas. Kloning bisa berfungsi sebagai pilihan
untuk memproduksi anak-anak.
Dengan
kloning, terdapat kemungkinan untuk menghasilkan sifat-sifat yang diinginkan
pada seorang individu.
3.
Bantuan dalam penelitian genetika
Teknologi kloning
berpotensi membantu dalam penelitin genetika.
Unsur genetik pada
manusia kloning memungkinkan direkayasa sehingga mempermudah analisis gen.
Kloning juga membantu
dalam memerangi berbagai penyakit genetik.
4. Mendapatkan sifat khusus dalam organisme
Kloning
memungkinkan kita memperoleh organisme yang disesuaikan untuk kepentingan suatu
masyarakat.
Kloning
merupakan cara terbaik meniru hewan yang dapat digunakan untuk tujuan
penelitian.
Perubahan
positif pada makhluk hidup dengan bantuan kloning akan menjadi keuntungan
tersendiri untuk umat manusia.
Kontra Kloning
• Kloning memiliki potensi merugikan. Kloning
adalah proses menyalin atau mereplikasi sifat biologis pada organisme. Hal ini
tentu bisa mengurangi keragaman di alam. Selain itu, sebagian orang masih
skeptis apakah kloning mampu mewujudkan semua potensinya menjadi kenyataan.
Berikut adalah beberapa poin mengenai
kerugian kloning.
1.
Merugikan keragaman genetika
Kloning menciptakan gen
identik. Hal ini akan membuat hilangnya keragaman pada suatu populasi.
Keragaman yang semakin
berkurang berarti melemahkan suatu organisme untuk beradaptasi.
Kloning berpotensi merusak
keindahan yang bertumpu pada keanekaragaman.
2.
Potensi malpraktik
Sementara memungkinkan proses
utak-atik pada genetika manusia, tetap terdapat potensi kegagalan pada kloning.
Kegagalan kloning organ tubuh,
misalnya, berisiko mengakibatkan malpraktik.
3.
Keterjangkauan
Kloning organ tubuh untuk
transplantasi tentu membutuhkan teknologi tinggi serta biaya besar.
Akankah prosedur ini efektif?
Akankan masyarakat banyak mampu menjangkaunya?
4.
Merebut kuasa Tuhan
Kloning akan mempertaruhkan
hak asasi manusia. Apakah secara moral dan etika kloning diperbolehkan?
Ini akan membuat manusia mampu
menciptakan manusia.
Apakah kloning tidak akan
mendevaluasi nilai kemanusiaan?
Apakah kloning akan merampas
sebagian kuasa Tuhan?[]
Pandangan islam
• 1. Anak-anak produk proses kloning tersebut
dihasilkan melalui cara yang tidak alami. Padahal justru cara alami itulah yang
telah ditetapkan oleh Allah untuk manusia dan dijadikan-Nya sebagai sunnatullah
untuk menghasilkan anak-anak dan keturunan.
• 2. Anak-anak produk kloning dari perempuan
saja (tanpa adanya laki-laki), tidak akan mempunyai ayah. Dan anak produk
kloning tersebut jika dihasilkan dari proses pemindahan sel telur yang telah
digabungkan dengan inti sel tubuh– ke dalam rahim perempuan yang bukan pemilik
sel telur, tidak pula akan mempunyai ibu. Sebab rahim perempuan yang menjadi
tempat pemindahan sel telur tersebut hanya menjadi penampung, tidak lebih.Ini
merupakan tindakan menyia-nyiakan manusia, sebab dalam kondisi ini tidak terdapat
ibu dan ayah.
• 3. Kloning manusia akan menghilang nasab
(garis keturunan). Padahal Islam telah mewajibkan pemeliharaan nasab.
• 4. Memproduksi anak melalui proses kloning
akan mencegah pelaksanaan banyak hukum-hukum syara’, seperti hukum tentang
perkawinan, nasab, nafkah, hak dan kewajiban antara bapak dan anak, waris,
perawatan anak, hubungan kemahraman, hubungan ‘ashabah, dan lain-lain. Di
samping itu kloning akan mencampur adukkan dan menghilangkan nasab serta
menyalahi fitrah yang telah diciptakan Allah untuk manusia dalam masalah
kelahiran anak. Kloning manusia sungguh merupakan perbuatan keji yang akan
dapat menjungkir balikkan struktur kehidupan masyarakat.
•
KLONING GEN DITINJAU DARI HUKUM AGAMA
Prestasi ilmu pengetahuan yang sampai pada penemuan proses kloning,sesungguhnya telah menyingkapkan sebuah hukum alam yang ditetapkan ALLAH SWT pada sel-sel tubuh manusia dan hewan, karena proses kloning telah menyikap fakta bahwa pada sel tubuh manusia dan hewan terdapat potensi menghasilkan keturunan, jika intisel tubuh tersebut ditanamkan pada sel telur perempuan yang telah dihilangkan inti selnya. Jadi sifat inti sel tubuh itu tak ubahnya seperti sel sperma laki-laki yang dapat membuahi sel telur peermpuan. Pada hakikatnya islam sangat menghargai iptek. Oleh sebab itu islam terhadap kloning tersebut tentunya sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat internasional. Didalam islam berbeda antara hukum kloning binatang dan manusia.
Pada hukum kloning pada manusia. Menurut buku fatawa mu’ashiroh karangan Yusuf Qurdhowy bahwa tidak diperbolehkanya kloning terhadap manusia. Atas beberapa pertimbangan diantaranya :
Prestasi ilmu pengetahuan yang sampai pada penemuan proses kloning,sesungguhnya telah menyingkapkan sebuah hukum alam yang ditetapkan ALLAH SWT pada sel-sel tubuh manusia dan hewan, karena proses kloning telah menyikap fakta bahwa pada sel tubuh manusia dan hewan terdapat potensi menghasilkan keturunan, jika intisel tubuh tersebut ditanamkan pada sel telur perempuan yang telah dihilangkan inti selnya. Jadi sifat inti sel tubuh itu tak ubahnya seperti sel sperma laki-laki yang dapat membuahi sel telur peermpuan. Pada hakikatnya islam sangat menghargai iptek. Oleh sebab itu islam terhadap kloning tersebut tentunya sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat internasional. Didalam islam berbeda antara hukum kloning binatang dan manusia.
Pada hukum kloning pada manusia. Menurut buku fatawa mu’ashiroh karangan Yusuf Qurdhowy bahwa tidak diperbolehkanya kloning terhadap manusia. Atas beberapa pertimbangan diantaranya :
•
Pertama
:
•
Dengan kloning akan
meniadakan keanekaragaman. (varietas).
ALLAH SWT telah menciptakan alam ini dengan kaedah keanekaragaman. Hal tersebut tertuang dalam Al-Qur’an surat fathir ayat 26 dan 27. Sedangkan dengan kloning akan meniadakan keanekaragaman tersebut. Karena dengan kloning secara tidak langsung menciptakan duplikat dari satu orang. Dan dengan ini akan dapat merusak kehidupan manusia dan tatanan sosial dalam masyarakat, efeknya sebagian telah kita ketahui dan sebagian lainnya kita ketahui di kemudian hari.
ALLAH SWT telah menciptakan alam ini dengan kaedah keanekaragaman. Hal tersebut tertuang dalam Al-Qur’an surat fathir ayat 26 dan 27. Sedangkan dengan kloning akan meniadakan keanekaragaman tersebut. Karena dengan kloning secara tidak langsung menciptakan duplikat dari satu orang. Dan dengan ini akan dapat merusak kehidupan manusia dan tatanan sosial dalam masyarakat, efeknya sebagian telah kita ketahui dan sebagian lainnya kita ketahui di kemudian hari.
•
Kedua :
•
Kloning manusia akan
menghilang nasab (garis keturunan).
Bagaimana dengan hubungan orang ang mengkloning dan hasil kloningan tersebut, apakah dihukumi sebagai duplikatnya atau bapaknya ataupun kembarannya, dan ini adalah permasalahan yang kompleks. Kita akan kesulitan dalam menentukan nasab hasil kloningan tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan kloning dapat digunakan untuk kejahatan, Siapa yang bisa menjamin jikalau diperbolehkan kloning tidak akan ada satu negara yang mencetak ribuan orang yang digunakan sebagai prajurit militer yang berfungsi menumpas negara lain.
Bagaimana dengan hubungan orang ang mengkloning dan hasil kloningan tersebut, apakah dihukumi sebagai duplikatnya atau bapaknya ataupun kembarannya, dan ini adalah permasalahan yang kompleks. Kita akan kesulitan dalam menentukan nasab hasil kloningan tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan kloning dapat digunakan untuk kejahatan, Siapa yang bisa menjamin jikalau diperbolehkan kloning tidak akan ada satu negara yang mencetak ribuan orang yang digunakan sebagai prajurit militer yang berfungsi menumpas negara lain.
•
Ketiga :
•
Dengan kloning akan
mengilangkan Sunatullah (nikah).
ALLAH SWT telah menciptakan manusia, tamanan, binatang dengan berpaang-pasangan. Surat Addariyat 46.. Anak-anak produk kloning tersebut dihasilkan melalui cara yang tidak alami. Padahal justru cara alami itulah yang telah ditetapkan ALLAH SWT untuk manusia dan dijadikan-Nya sebagai sunnatullah untuk menghasilkan anak-anak dan keturunannya.
ALLAH SWT telah menciptakan manusia, tamanan, binatang dengan berpaang-pasangan. Surat Addariyat 46.. Anak-anak produk kloning tersebut dihasilkan melalui cara yang tidak alami. Padahal justru cara alami itulah yang telah ditetapkan ALLAH SWT untuk manusia dan dijadikan-Nya sebagai sunnatullah untuk menghasilkan anak-anak dan keturunannya.
•
ALLAH SWT
berfirman: ” dan Bawasannya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan
laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan.” (QS. An Najm :
45-46).
•
Keempat :
Keempat :
•
Memproduksi
anak melalui proses kloning akan mencegah pelaksanaan banyak hukum-hukum
syara’. Seperti hukum tentang perkawinan, nasab, nafkah, hak, dan kewajiban
antar bapak dan anak, waris, perawatan anak, hubungan kemahraman, hubungan
’ashabah dan lain-lain. Disamping itu koning akan mencampur adukkan dam
menghilangkan nasab serta menyalahi fitra yang telah diciptakan ALLAH SWT untuk
manusia dalam masalah kelahiran anak. Kloning manusia sesungguhnya merupakan
perbuatan keji yang akan dapat menjungkir balikkan struktur kehidupan
masyarakat.
Allah swt berfirman :
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَاُنْثَى
Artinya
:
“Hai manusia, sesunguhnya Kami menciptakan
kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.” (QS. Al Hujuraat : 13) Allah swt berfirman :
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ
وَالْاُنْثَى مِنْ نُطْفَطٍ إِذَا تُمْنَى
Artinya
:
“Dan Bahwasanya Dialah yang menciptakan
berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan.”
(QS. An Najm : 45-46)
Point 4
Kesimpulan
kloning akan memberikan banyak manfaat bagi
kehidupan manusia. Meskipun tingkat keberhasilannya masih sangat rendah,
teknologi kloning masih bisa dan akan terus berkembang mengingat betapa besar
manfaat yang akan didapat dari pengembangan teknologi ini. namun kloning ini
masih menimbulkan pro dan kontra di masyarakat karena berbagai alasan.
Solusi
1) meminimalisir pelaksanaan kloning dengan
mencari alternatif solusi lain.
2) pihak-pihak terkait baik pro maupun kontra
dengan di fasilitasi pemerintah saling berkoordinasi untuk membuat peraturan
perundang-undangan atau kepastian hukum atas boleh atau tidaknya dilakukan
kloning serta alasan apa saja yang memperbolehkan untuk melakukan kloning
Kloning sebagai pengembangan IPTEK, termasuk
hasil perkembangan pikiran manusia yang patut
disyukuri dan dimanfaatkan untuk meningkatkan tarap hidup
manusia yang lebih tinggi dan lebih terhormat. Namun hasil pemikiran manusia
tersebut harus sesuai dengan ajaran agama. Klonasi terhadap manusia dengan
tujuan untuk dijadikan cadangan transplantasi organ tubuh manusia dapat
dibenarkan sepanjang tidak bertentangan dengan tujuan ajaran agama. Klonasi
terhadap jaringan, sel, dan organ tubuh manusia, selama dibenarkan oleh ilmu
pengetahuan dan sesuai dengan tujuan agama dipandang sangat membantu bagi
penyembuhan dengan jalan transplantasi. Seperti contoh mengganti organ tubuh
yang rusak dengan organ tubuh manusia hasil kloningan terhadap korban
kecelakaan kerja di pertambangan atau kecelakaan-kecelakaan lainnya.
Kloning manusia juga dapat dilakukan untuk memecahkan problem ketidaksuburan, tetapi tidak boleh mengabaikan fakta bahwa Ian Wilmut, A.E. Schieneke, dan K.H.S. Campbell harus melakukan 277 kali percobaan sebelum akhirnya berhasil mengkloning "Dolly". Kloning manusia tentu akan melewati prosedur yang jauh lebih rumit. Pada eksperimen awal untuk menghasilkan sebuah klon yang mampu bertahan hidup akan terjadi banyak sekali keguguran dan kematian. Lebih jauh, dari sekian banyak embrio yang dihasilkan hanya satu embrio, yang akhirnya ditanam ke rahim wanita pengandung sehingga embrio-embrio lainnya akan dibuang atau dihancurkan. Hal ini tentu akan menimbulkan problem serius, karena menurut pandangan agama pengancuran embrio adalah sebuah kejahatan.
Kloning manusia juga dapat dilakukan untuk memecahkan problem ketidaksuburan, tetapi tidak boleh mengabaikan fakta bahwa Ian Wilmut, A.E. Schieneke, dan K.H.S. Campbell harus melakukan 277 kali percobaan sebelum akhirnya berhasil mengkloning "Dolly". Kloning manusia tentu akan melewati prosedur yang jauh lebih rumit. Pada eksperimen awal untuk menghasilkan sebuah klon yang mampu bertahan hidup akan terjadi banyak sekali keguguran dan kematian. Lebih jauh, dari sekian banyak embrio yang dihasilkan hanya satu embrio, yang akhirnya ditanam ke rahim wanita pengandung sehingga embrio-embrio lainnya akan dibuang atau dihancurkan. Hal ini tentu akan menimbulkan problem serius, karena menurut pandangan agama pengancuran embrio adalah sebuah kejahatan.
Penutup
Kloning adalah suatu metode atau cara perbanyakan makhluk hidup secara aseksual atau suatu teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama persis dengan induknya. Dalam perkembangan biologi molekuler, sekarang dimungkinkan klonasi pada tingkat yang lebih kecil daripada sel, yaitu tingkat gen. Kloning manusia hanya membutuhkan pengambilan sel somatis (sel tubuh), bukan sel reproduktif seperti sel telur atau sel sperma dari seseorang.
Salah satu kegiatan yang bertentangan langsung dengan intisari mayoritas ajaran Agama adalah kloning. Dari sudut pandang agama kloning akan menimbulkan banyak masalah diantaranya masalah hak waris dan pernikahan, masalah kejiwaan, menghancurkan seleksi terhadap orang-orang yang akan diklonong, serta masalah garis keturunan.
Namun klonasi terhadap manusia dengan tujuan untuk dijadikan cadangan transplantasi organ tubuh manusia dapat dibenarkan sepanjang tidak bertentangan dengan tujuan ajaran agama. Kloning manusia juga dapat dilakukan untuk memecahkan problem ketidaksuburan, tetapi tidak boleh mengabaikan fakta kloning terhadap domba Dolly.
Kloning adalah suatu metode atau cara perbanyakan makhluk hidup secara aseksual atau suatu teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama persis dengan induknya. Dalam perkembangan biologi molekuler, sekarang dimungkinkan klonasi pada tingkat yang lebih kecil daripada sel, yaitu tingkat gen. Kloning manusia hanya membutuhkan pengambilan sel somatis (sel tubuh), bukan sel reproduktif seperti sel telur atau sel sperma dari seseorang.
Salah satu kegiatan yang bertentangan langsung dengan intisari mayoritas ajaran Agama adalah kloning. Dari sudut pandang agama kloning akan menimbulkan banyak masalah diantaranya masalah hak waris dan pernikahan, masalah kejiwaan, menghancurkan seleksi terhadap orang-orang yang akan diklonong, serta masalah garis keturunan.
Namun klonasi terhadap manusia dengan tujuan untuk dijadikan cadangan transplantasi organ tubuh manusia dapat dibenarkan sepanjang tidak bertentangan dengan tujuan ajaran agama. Kloning manusia juga dapat dilakukan untuk memecahkan problem ketidaksuburan, tetapi tidak boleh mengabaikan fakta kloning terhadap domba Dolly.
Ketika Dolly, domba kloning pertama masuk dalam
pemberitaan, kontroversi kloning semakin mengemuka.
Tidak hanya peneliti, masyarakat umum menjadi tertarik
mengetahui bagaimana kloning dilakukan serta terlibat dalam pro dan kontra.
Resiliensi
Posted by: Unknown Posted date: 00.19 / comment : 0 pribadi
KONSEP DASAR RESILIENSI
Dra.
Prihastuti, SU*
a.
Pengertian
Upaya pendefinisian resiliensi banyak
bermunculan yang pada akhirnya menghasilkan berbagai perbedaan dalam
mendefinisikan konsep, karakteristik dan dinamika resiliensi (Gordon, 1994).
Berbagai usaha tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif
tentang apa dan bagaimana seseorang berproses untuk mencapai kualitas
resiliensi. Istilah resiliensi erat terkait dengan istilah ego resiliensi yang
pertama kali disampaikan oleh Block dalam Klohnen (1996). Ego resiliensi
menurut Cohn, dkk (2009) disebut sebagai bentuk kepribadian yang stabil, mencerminkan kemampuan individu untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Respon
adaptif ini dapat meliputi
Luthar, dkk (2000) mendefinisikan resiliensi kemampuan
mengidentifikasikan kesempatan, menghadapi berbagai kendala, serta keluar dari
kondisi yang tidak menguntungkan. sebagai proses dinamis yang
mengarah pada kemampuan yang positif untuk menyesuaikan diri dalam situasi yang
sulit. Sedangkan Tugade dan
Fredickson (2004) mengidentifikasi sebagai kemampuan untuk cepat beralih dari pengalaman emosi negatif dan
kemampuan beradaptasi dalam menanggapi suatu pengalaman yang stresful.
b.
Fungsi Resiliensi
Reivich dan Shatte (2002) dalam
bukunya yang berjudul The Resilience
Factor menjelaskan bahwa resiliensi memiliki empat fungsi dasar dalam
kehidupan manusia, yaitu:
1. Mengatasi kesulitan-kesulitan yang pernah dialami di
masa kecil. Beberapa orang
mengalami pengalaman pahit di masa kecil, misalnya kemiskinan, kekerasan, atau
broken home, resiliensi bermanfaat untuk meninggalkan akibat buruk dari
pengalaman-pengalaman pahit tersebut dengan lebih memusatkan pada tanggung
jawab pribadi untuk mewujudkan masa dewasa yang diinginkan.
2. Melewati kesulitan-kesulitan dalam kehidupan
sehari-hari, misalnya menghadapi
konflik dengan rekan atau keluarga dan menghadapi kejadian yang tidak diinginkan. Seseorang dengan resiliensi yang
baik tidak akan membiarkan kesulitan yang dihadapinya sehari-hari mempengaruhi
produktivitas atau kesejahteraannya.
3. Bangkit kembali setelah mengalami kejadian traumatik
atau kesulitan besar. Menghadapi
situasi krisis dalam hidup seperti kematian, perpisahan akan menyebabkan
ketidakberdayaan seseorang. Kemampuan untuk segera bangkit dari
ketidakberdayaan tersebut akan tergantung dari tingkat resiliensi seseorang.
4. Mencapai prestasi terbaik . Resiliensi dapat membantu untuk mengoptimalkan segala potensi diri
untuk mencapai seluruh cita-cita dalam
hidup. Mencapai tujuan hidup dengan
bersikap terbuka terhadap berbagai pengalaman dan kesempatan.
c.
Kemampuan Resiliensi
Hasil penelitian (Reivich K and Shatte
A., 1999) menyatakan bahwa resiliensi mencakup 7 kemampuan, yaitu : regulasi
emosi, kontrol impuls, empati, optimisme, analisis kausal, self-efficacy, dan
reaching out. Ketujuh kemampuan tersebut disebut juga sebagai 7 faktor resiliensi.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut disusunlah suatu inventory yang disebut
sebagai Resilience Quotient Test. Berikut adalah pemaparan masing-masing
faktor yang tercakup dalam resiliensi:
1. Regulasi Emosi (Emotional Regulation)
Regulasi emosi merupakan kemampuan untuk
tetap tenang dalam kondisi yang penuh tekanan. Individu yang resilien menggunakan serangkaian
ketrampilan yang telah dikembangkan untuk membantu mengontrol emosi, atensi dan
perilakunya. Kemampuan regulasi penting untuk menjalin hubungan interpersonal,
kesuksesan kerja dan mempertahankan kesehatan fisik. Tidak setiap emosi harus
diperbaiki atau dikontrol. Ekspresi emosi secara tepatlah yang menjadi bagian
dari resiliensi
.
2. Kontrol Impuls (Impulse
Control)
Kontrol impuls
berkaitan erat dengan kemampuan regulasi emosi. Individu dengan kontrol impuls
yang kuat, cenderung memiliki regulasi emosi yang tinggi, sedangkan individu
dengan kontrol emosi yang rendah cenderung menerima keyakinan secara impulsif,
yaitu suatu situasi sebagai kebenaran dan bertindak atas dasar hal tersebut.
Kondisi ini seringkali menimbulkan konsekuensi negatif yang dapat menghambat
resiliensi
.
3. Optimisme
(Optimism)
Individu yang
resilien adalah individu yang optimis. Mereka yakin bahwa berbagai hal dapat
berubah menjadi lebih baik. Mereka memiliki harapan terhadap masa depan &
percaya bahwa mereka dapat mengontrol arah kehidupannya. Dibandingkan orang
yang pesimis, individu yang optimis lebih sehat secara fisik, cenderung tidak
mengalami depresi, berprestasi lebih baik di sekolah, lebih produktif dalam
bekerja dan lebih berprestasi dalam olah raga. Hal ini merupakan fakta yang ditunjukkan oleh
ratusan studi yang terkontrol dengan baik.
4. Analisis Kausal (Causal Analysis)
Analisis kausal merupakan istilah yang
digunakan untuk merujuk pada kemampuan individu untuk secara akurat mengidentifikasi penyebab-penyebab
dari permasalahan mereka. Jika
seseorang tidak mampu memperkirakan penyebab dari permasalahannya secara
akurat,maka individu tersebut akan membuat kesalahan yang sama.
5. Empati (Empathy)
Empati menggambarkan sebaik apa
seseorang dapat membaca petunjuk dari orang lain berkaitan dengan kondisi psikologis
dan emosional orang tersebut. Beberapa individu dapat menginterpretasikan
perilaku non verbal orang lain, seperti ekspresi wajah, nada suara dan bahasa
tubuh serta menentukan apa yang dipikirkan dan dirisaukan orang tersebut.
Ketidak mampuan dalam hal ini akan berdampak pada kesuksesan dalam bisnis dan
menunjukkan perilaku non resilien.
6. Self-Efficacy
Self-efficacy menggambarkan keyakinan
seseorang bahwa ia dapat memecahkan masalah yang dialaminya dan keyakinan
seseorang terhadap kemampuannya untuk mencapai kesuksesan. Dalam lingkungan
kerja, seseorang yang memiliki keyakinan terhadap dirinya untuk memecahkan
masalah muncul sebagai pemimpin.
7. Reaching Out
Reaching
out menggambarkan kemampuan
seseorang untuk mencapai keberhasilan. Resiliensi
merupakan sumber untuk mencapai reaching out, karena resiliensi memungkinkan
kita untuk meningkatkan aspek-aspek
positif dalam kehidupan.
Berbagai penelitian menekankan bahwa resiliensi dapat
dipupuk melalui berbagai teknik, misalnya penggunaan humor, teknik-teknik
relaksasi, dan cara berpikir positif. Oleh karena itu, resiliensi tidak dipandang sebagai fixed trait karena bisa diajarkan ataupun ditingkatkan. Reivich dan
Shatte melalui penelitan mengenai pelatihan ketrampilan untuk meningkatkan
resiliensi telah menemukan bahwa individu yang terlibat dalam pelatihan
tersebut merasa lebih kuat, percaya diri, merasa nyaman untuk berhubungan
dengan orang lain, bersemangat dalam menemukan pengalam-pengalaman baru, serta
lebih berani mengambil resiko.
DAFTAR PUSTAKA
Anastasi,
A., (1997). Psychological Testing.
Prentice-Hall. Inc.
Allen, M.J & Yen, W.M. (1979). Introduction to
Measurement Theory.
Monterey:
Brooks/Cole Publishing Company.
Cohn,
M.A. (2009). Happines unpacked: Positive emotions increase life satisfaction by
building resilience. American Psychological Association
Frankenburg, W., (1987). Fifth
International Conference: Early identification of children at risk: Resilience
factors in prediction. University of Colorado, Denver, CO.
Garmezy, N. (1985) Stress-Resistant
Children: The Search for Protective Factors. In: J.E. Stevenson (Ed.) Recent
Research in Developmental Psychopathology, Journal of Child Psychology and
Psychiatry Book Supplement No. 4 (213-233). Oxford: Pergamon Press.
Gordon, E., & Song, L.D., (1994)
Variations in the experience of resilience. In: M. Wang & E. Gordon (Eds.).
Educational resilience in inner-city America, 27-43.
Grotberg,
E. H., (1999). Countering Deppresion with the Five Building
Blocks of Resilience. Diakses pada 17 September 2006 dari (http://www.neoonline.com/countering%20depression%20with%20the%20five%20building%20block%20of%20resilience.html)
Langganan:
Komentar (Atom)
- Popular Post
- Video
- Category


