KONSEP DASAR RESILIENSI
Dra.
Prihastuti, SU*
a.
Pengertian
Upaya pendefinisian resiliensi banyak
bermunculan yang pada akhirnya menghasilkan berbagai perbedaan dalam
mendefinisikan konsep, karakteristik dan dinamika resiliensi (Gordon, 1994).
Berbagai usaha tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif
tentang apa dan bagaimana seseorang berproses untuk mencapai kualitas
resiliensi. Istilah resiliensi erat terkait dengan istilah ego resiliensi yang
pertama kali disampaikan oleh Block dalam Klohnen (1996). Ego resiliensi
menurut Cohn, dkk (2009) disebut sebagai bentuk kepribadian yang stabil, mencerminkan kemampuan individu untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Respon
adaptif ini dapat meliputi
Luthar, dkk (2000) mendefinisikan resiliensi kemampuan
mengidentifikasikan kesempatan, menghadapi berbagai kendala, serta keluar dari
kondisi yang tidak menguntungkan. sebagai proses dinamis yang
mengarah pada kemampuan yang positif untuk menyesuaikan diri dalam situasi yang
sulit. Sedangkan Tugade dan
Fredickson (2004) mengidentifikasi sebagai kemampuan untuk cepat beralih dari pengalaman emosi negatif dan
kemampuan beradaptasi dalam menanggapi suatu pengalaman yang stresful.
b.
Fungsi Resiliensi
Reivich dan Shatte (2002) dalam
bukunya yang berjudul The Resilience
Factor menjelaskan bahwa resiliensi memiliki empat fungsi dasar dalam
kehidupan manusia, yaitu:
1. Mengatasi kesulitan-kesulitan yang pernah dialami di
masa kecil. Beberapa orang
mengalami pengalaman pahit di masa kecil, misalnya kemiskinan, kekerasan, atau
broken home, resiliensi bermanfaat untuk meninggalkan akibat buruk dari
pengalaman-pengalaman pahit tersebut dengan lebih memusatkan pada tanggung
jawab pribadi untuk mewujudkan masa dewasa yang diinginkan.
2. Melewati kesulitan-kesulitan dalam kehidupan
sehari-hari, misalnya menghadapi
konflik dengan rekan atau keluarga dan menghadapi kejadian yang tidak diinginkan. Seseorang dengan resiliensi yang
baik tidak akan membiarkan kesulitan yang dihadapinya sehari-hari mempengaruhi
produktivitas atau kesejahteraannya.
3. Bangkit kembali setelah mengalami kejadian traumatik
atau kesulitan besar. Menghadapi
situasi krisis dalam hidup seperti kematian, perpisahan akan menyebabkan
ketidakberdayaan seseorang. Kemampuan untuk segera bangkit dari
ketidakberdayaan tersebut akan tergantung dari tingkat resiliensi seseorang.
4. Mencapai prestasi terbaik . Resiliensi dapat membantu untuk mengoptimalkan segala potensi diri
untuk mencapai seluruh cita-cita dalam
hidup. Mencapai tujuan hidup dengan
bersikap terbuka terhadap berbagai pengalaman dan kesempatan.
c.
Kemampuan Resiliensi
Hasil penelitian (Reivich K and Shatte
A., 1999) menyatakan bahwa resiliensi mencakup 7 kemampuan, yaitu : regulasi
emosi, kontrol impuls, empati, optimisme, analisis kausal, self-efficacy, dan
reaching out. Ketujuh kemampuan tersebut disebut juga sebagai 7 faktor resiliensi.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut disusunlah suatu inventory yang disebut
sebagai Resilience Quotient Test. Berikut adalah pemaparan masing-masing
faktor yang tercakup dalam resiliensi:
1. Regulasi Emosi (Emotional Regulation)
Regulasi emosi merupakan kemampuan untuk
tetap tenang dalam kondisi yang penuh tekanan. Individu yang resilien menggunakan serangkaian
ketrampilan yang telah dikembangkan untuk membantu mengontrol emosi, atensi dan
perilakunya. Kemampuan regulasi penting untuk menjalin hubungan interpersonal,
kesuksesan kerja dan mempertahankan kesehatan fisik. Tidak setiap emosi harus
diperbaiki atau dikontrol. Ekspresi emosi secara tepatlah yang menjadi bagian
dari resiliensi
.
2. Kontrol Impuls (Impulse
Control)
Kontrol impuls
berkaitan erat dengan kemampuan regulasi emosi. Individu dengan kontrol impuls
yang kuat, cenderung memiliki regulasi emosi yang tinggi, sedangkan individu
dengan kontrol emosi yang rendah cenderung menerima keyakinan secara impulsif,
yaitu suatu situasi sebagai kebenaran dan bertindak atas dasar hal tersebut.
Kondisi ini seringkali menimbulkan konsekuensi negatif yang dapat menghambat
resiliensi
.
3. Optimisme
(Optimism)
Individu yang
resilien adalah individu yang optimis. Mereka yakin bahwa berbagai hal dapat
berubah menjadi lebih baik. Mereka memiliki harapan terhadap masa depan &
percaya bahwa mereka dapat mengontrol arah kehidupannya. Dibandingkan orang
yang pesimis, individu yang optimis lebih sehat secara fisik, cenderung tidak
mengalami depresi, berprestasi lebih baik di sekolah, lebih produktif dalam
bekerja dan lebih berprestasi dalam olah raga. Hal ini merupakan fakta yang ditunjukkan oleh
ratusan studi yang terkontrol dengan baik.
4. Analisis Kausal (Causal Analysis)
Analisis kausal merupakan istilah yang
digunakan untuk merujuk pada kemampuan individu untuk secara akurat mengidentifikasi penyebab-penyebab
dari permasalahan mereka. Jika
seseorang tidak mampu memperkirakan penyebab dari permasalahannya secara
akurat,maka individu tersebut akan membuat kesalahan yang sama.
5. Empati (Empathy)
Empati menggambarkan sebaik apa
seseorang dapat membaca petunjuk dari orang lain berkaitan dengan kondisi psikologis
dan emosional orang tersebut. Beberapa individu dapat menginterpretasikan
perilaku non verbal orang lain, seperti ekspresi wajah, nada suara dan bahasa
tubuh serta menentukan apa yang dipikirkan dan dirisaukan orang tersebut.
Ketidak mampuan dalam hal ini akan berdampak pada kesuksesan dalam bisnis dan
menunjukkan perilaku non resilien.
6. Self-Efficacy
Self-efficacy menggambarkan keyakinan
seseorang bahwa ia dapat memecahkan masalah yang dialaminya dan keyakinan
seseorang terhadap kemampuannya untuk mencapai kesuksesan. Dalam lingkungan
kerja, seseorang yang memiliki keyakinan terhadap dirinya untuk memecahkan
masalah muncul sebagai pemimpin.
7. Reaching Out
Reaching
out menggambarkan kemampuan
seseorang untuk mencapai keberhasilan. Resiliensi
merupakan sumber untuk mencapai reaching out, karena resiliensi memungkinkan
kita untuk meningkatkan aspek-aspek
positif dalam kehidupan.
Berbagai penelitian menekankan bahwa resiliensi dapat
dipupuk melalui berbagai teknik, misalnya penggunaan humor, teknik-teknik
relaksasi, dan cara berpikir positif. Oleh karena itu, resiliensi tidak dipandang sebagai fixed trait karena bisa diajarkan ataupun ditingkatkan. Reivich dan
Shatte melalui penelitan mengenai pelatihan ketrampilan untuk meningkatkan
resiliensi telah menemukan bahwa individu yang terlibat dalam pelatihan
tersebut merasa lebih kuat, percaya diri, merasa nyaman untuk berhubungan
dengan orang lain, bersemangat dalam menemukan pengalam-pengalaman baru, serta
lebih berani mengambil resiko.
DAFTAR PUSTAKA
Anastasi,
A., (1997). Psychological Testing.
Prentice-Hall. Inc.
Allen, M.J & Yen, W.M. (1979). Introduction to
Measurement Theory.
Monterey:
Brooks/Cole Publishing Company.
Cohn,
M.A. (2009). Happines unpacked: Positive emotions increase life satisfaction by
building resilience. American Psychological Association
Frankenburg, W., (1987). Fifth
International Conference: Early identification of children at risk: Resilience
factors in prediction. University of Colorado, Denver, CO.
Garmezy, N. (1985) Stress-Resistant
Children: The Search for Protective Factors. In: J.E. Stevenson (Ed.) Recent
Research in Developmental Psychopathology, Journal of Child Psychology and
Psychiatry Book Supplement No. 4 (213-233). Oxford: Pergamon Press.
Gordon, E., & Song, L.D., (1994)
Variations in the experience of resilience. In: M. Wang & E. Gordon (Eds.).
Educational resilience in inner-city America, 27-43.
Grotberg,
E. H., (1999). Countering Deppresion with the Five Building
Blocks of Resilience. Diakses pada 17 September 2006 dari (http://www.neoonline.com/countering%20depression%20with%20the%20five%20building%20block%20of%20resilience.html)

Tidak ada komentar: